Jumat, 23 November 2012


KHOTBAH MINGGU 25 NOPEMBER 2012
DI GMI KASIH KARUNIA, JALAN HANG TUAH  3 MEDAN
Nats Alkitab : 1 Tesalonika 4:13-18
Thema            : Berpengharapan dan hidup Kudus
Oleh: DS Pdt. T.M. Karo-karo,STh,MA


        I.            Pendahuluan
Minggu ini dalam Almanak kita disebut “Minggu Kristus Raja”, dalam almanak sebelumnya lebih dikenal  dengan sebutan “Minggu akhir Tahun gereja”. Minggu depan kita memasuki minggu Advent I sebagai awal tahun gereja. Apa itu Minggu Kristus raja?  Minggu Kristus Raja merupakan hari Minggu penutup Tahun Liturgi Gereja, sekaligus saat untuk menyambut Adven, sehingga menjadi istimewa. Hari raya ini mengarahkan gereja kepada zaman penyelesaian akhir karya keselamatan Allah di dalam Kristus (Mat. 3:2; 4:17; 10:7; Luk. 9:2; 2 Ptr. 1:16; bnd. Mrk. 15:18; Luk. 23:3, 37, 38; Yoh. 19:3, 14). Saat ini gereja masih menantikan langit dan bumi yang baru di mana Kristus Sang Raja akan datang kembali sebagai Hakim untuk menyelesaikan segala sesuatunya dan menaklukkan segala sesuatu, sehingga “Allah menjadi semua di dalam semua” (1 Kor. 15:28; 1 Tim. 6:16; Why. 21-22). Inilah tujuan seluruh sejarah manusia dan seluruh sejarah gereja.
Dalam rentang waktu antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedatangan-Nya yang kedua kalinya hiduplah gereja. Gereja hidup, bergerak, dan berziarah menuju kepada janji kepenuhan hari penyelamatan Allah yang di satu pihak sudah terlaksana di dalam Kristus dan di lain pihak bergerak dalam rangka sejarah dunia kepada penyelesaian akhirnya. Dalam rentang waktu itulah gereja berliturgi untuk memuliakan Allah dan dengan demikian juga membawa manusia kepada kekudusan.
Suatu tradisi yang yang sering dilakukan oleh gereja pada minggu ini (di toba) biasanya warga jemaat datang ke gereja berpakaian serba hitam. Nama-nama warga jemaat yang telah meninggal dunia selama setahun ini dibacakan/ditingtingkan.  Minggu ini secara khusus diberikan waktu kepada jemaat untuk mengingat kembali  keluarga yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Tetapi sesungguhnya intinya  lebih mengarah kepada  “bagaimana supaya jemaat mengingat masa parusia” kedatangan Yesus yang kedua kali” dan jangan lupa mempersiakan diri untuk menyambutNya.

     II.            Berpengharapan dan hidup Kudus

Tujuan Paulus mengingatkan jemaat tentang Parusia adalah supaya jemaat tetap mempunyai pengharapan dan di dalam hidup tetap menjaga kekudusan. Karena pengharapan dan kekudusan itu sangat erat sekali hubungannya. Orang yang tidak mempunyai harapan maka dia tidak akan mau berjuang.
Ketika saya diangkat sebagai DS di Nias, saya mempunyai suatu harapan ( bisa harapan duniawi atau rohani). Harapan saya sederhana, GMI di sana bisa jadi suatu alat untuk  kemuliaan Tuhan, selanjutnya harapan saya---nanti GMI di sana bukan hanya di Nias selatan, tapi ke utara, induk, barat bahkan ke Pulau Telo. Sehingga  kami bersama dengan jemaat yang ada punya semangat, aksi, tindakan. Dll.

Ada pengharapan anda----maka akan ada aksi anda untuk menjaga kekudusan.
Paulus bertujuan untuk tetap menjaga pengharapan warga jemaat, sehingga ini akan menolong mereka untuk menjaga kekudusan mereka.

  III.            Pengharapan membuat anda untuk tetap siap sedia.
Saya pernah mendengar cerita tentang perjalanan Colombus dalam menemukan benua yang baru. Katanya, pernah terjadi ketika Colombus berlabuh di sebuah pulai kecil, beberapa anak buahnya tertinggal di pulau itu.

Setelah Colombus menyadari bahwa ada beberapa anak buahnya yang tertinggal, di carilah jalan untuk kembali ke pulau kecil itu. Tapi sayangnya, berhari-hari, berbulan-bulan tak bisa juga, akhirnya  ternyata kapal Colombus itu menemukan jalan kembali.

Sampai akhirnya, setelah berbulan-bulan lamanya, ketemu juga tuh pulau kecil itu. Yang mengherankan adalah, ketika Colombus datang untuk menjemput anak buahnya yang tertinggal itu, ternyata para anak buahnya itu sudah bersiap-siap dan berkemas seakan tahu bahwa hari itu Colombus datang menjemput mereka yang tertinggal di pulau kecil itu.

"Lah, kok kalian udah siap-siap gini sih?? Darimana kalian tahu hari ini saya bisa ketemu kalian di pulau kecil ini??" tanya Colombus.

"Oh, tidak kapten, kami tidak tahu kapan kapten datang kembali untuk menjemput kami. Tapi setiap hari kami selalu saling mengingatkan setiap hari: woii, beres-beres semua ya, siapa tahu kapten datang hari ini"

Apa yang dirasakan oleh para anak buah yang tertinggal di pulau kecil tadi itu sebetulnya hal itu juga yang menjadi perasaan dan pengharapan mereka, jemaat di Tesalonika: Mereka menanti kedatangan bos dan mereka berharap bos cepat datang dan akan datang di hari itu.

Akan tetapi, ternyata bagi jemaat di Tesalonika, bos nya belum datang-datang. Tuhan maksudnya yang belum datang-datang.

Pengharapan membuat anda selalu bersiap-siap.


  IV.            Kesiapan menunggu Tuhan berarti  juga siap menghadapi realita Kematian

Ada sebuah keluarga yang mempunyai  seorang oppug yang sudah sangat tua, ma demi adat maka keluarga itu sudah mempersiapkan “sigagat duhut (kerbau)” untuk acara adat oppung tersebut  (karena adat Toba). Tapi ternyata dia yang lebih dahulu meninggal dari pada oppungnya. Artinya kita tidak tahu kapan Yesus datang kedunia ini untuk yang kedua kali, tetapi juga kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh Bapa yang di sorga.

Kematian itu sejatinya: menakutkan, mengerikan, mendukakan. Bagi orang yang biasa/hidupnya lancer  hendaknya jangan ada kematian.

Tapi sebaliknya bagi sebagian orang ada yang mencari kematian:
·        Dua anak kandungnya ditenggelamkan dalam bak sampai mati---lalu dia bunuh diri
·        Ibu minum racun
·        Ibu membakar anaknya
Ini bagi orang-orang yang ada masalah.
Jadi jangat takut terhadap kematian, tetapi juga jangan cari mati, yang lebih penting bersip-siaplah senantiasa untuk menghadapi kematian---jangan ceroboh hari esok bukan untukmu, tapi pergunakanlah hari ini, hari yang telah diberikan Tuhan untuk mempersipkan dirimu dan jangan lupa mensyukuri hari kemarin.

Illustrasi:
ada suatu perjalanan liburan, sebuah keluarga pergi dengan mobil mereka menuju lokasi wisata, dan dengan jendela kaca yang diturunkan, mereka dapat menikmaai kehangatan matahari pagi yang cerah. Namun tiba-tiba seeokor lebah masuk ke dalam mobil itu dan berputar-putar di dalam mobil. Salah seorang anak perempan kecil di dalam mobil itu sangat alergi terhadap sengatan lebah, yang dapat mengancam jiwanya dalam beberapa jam saja jika disengat lebah.
“Aduh Ayah! Dia berteriak karena ketakutan, “Ini lebah, ia akan segera menyengat aku!” Sang ayah mencoba menghentikan mobil dan mencoba menangkap lebah itu. Lebah itu terbang tepat mengarah kepadanya dan tiba-tiba menghantam kaca depan mobil, saat itulah tepat sang Ayah menangkap lebah itu dengan kedua tangannya. Pada saat menggenggam lebah itu, tangan sang ayah pun disengat lebah itu dan rasa cukup perih akibat sengatan lebah itu dirasakan oleh sang ayah.
Kemudian sang ayah melepaskan lagi lebah itu dari tangannya. Namun ternyata lebah itu masuk lagi  ke dalam mobil. Anak perempuan itu seketika kembali panik dan berteriak “Ayah! Lebah itu akan menyengat saya lagi lagi! Dengan tenang sang ayah menjawab “Tidak sayang, dia tidak akan menyengatmu lagi. Lihat tangan ayah.” Sengat lebah itu tertancap di tangan sang ayah.
Refleksi:
Di dalam kitab 1 Korintus 15:55-57 Paulus menuliskan: “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Ketika Yesus disalibkan, disana Ia mempersembahkan diri-Nya untuk mati bagi dosa-dosa manusia, ketika Ia menampakkan diri kepada murid-murid-Nya, Ia menunjukkan kedua belah tangan-Nya yang berlubang bekas tusukan paku salib. Sengat maut/ dosa sudah dicabut oleh kematian Yesus Kristus, dan setiap orang yang percaya pada-Nya telah dibebaskan dari sengat maut dan dari kuasa dosa.

 Sidikalang 23 Nopember 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar