Selasa, 15 Maret 2011

Pembinaan Pekerja GMI Distrik 3 Wil. I

Pembinaan Calon Pekerja, Calon GI, Guru Injil dan Rapat KPLPJ
GMI Distrik 3 Wilayah I Di Silalahi, Dairi

Dalam Rangka meningkatkan kwalitas para pelayan di GMI Distrik 3 Wilayah I, maka KPLPJ Distrik 3 Wilayah I mengadakan pembinaan sekaligus rapat KPLPJ pada tanggal 9 s/d 10 Februari 2011 di Sopo Morina Silalahi, Dairi.
Pembinaan dikhususkan bagi calon Pekerja, calon Guru Injil, dan guru Injil supaya mereka lebih mengenal pelayanan dan dapat memperbaiki diri dalam segala kekurangan-kekurangan; baik kekurangan komitmen, kekurangan skills maupun kesiapan dalam bidang psikologis.
Pembinaan diawali dengan kebaktian Pembukaan, pengarahan dari Pimpinan Distrik 3 Wil, I DS Pdt. T.M. karo-karo, STh,MA dilanjutkan dengan Sesion dari Ketua KPLPJ Distrik 3 Wil. I, Pdt. DR Heruanto Go, MTh. Kemudian pada malam hari pembinaan dilakukan dengan face to face bersama dengan seluruh anggota KPLPJ Distrik 3 Wil. I. Sehingga pembinaan itu begitu terarah dan dan langsung menuju perbaikan secara pribadi bagi para caper, cagu, dan Guru Injil.
Besoknya semua peserta diberikan kebebasan untuk menjelajah Danau Toba dengan berbagai macam kegiatan, menikmati indahnya tao silalahi dan berbelanja bawang merah sebagai oleh-oleh. Pertemuan ini diakhiri dengan makan siang bersama dan selanjutnya meninggalkan Silalahi menuju pelayanan masing-masing. Sampai Jumpa lagi di tao Silalahi. (DS Pdt. T.M. Karo-karo,STh,MA)

Jumat, 18 Februari 2011

CARA MEMBUAT NANIURA
Oleh : DS Pdt. T.M. Karo-karo,STh,MA

1. Apa itu naniura?
Naniura sering juga disebut “dekke na ni ura” terjemahannya: ikan yang “diura”. Naniura adalah masakan khas dari Toba Holbung yaitu daerah Toba yang ada di sekitar danau Toba seperti: Porsea sekitarnya, Balige, Laguboti, sigumpar sekitarnya. Makanan ini mempunyai ciri khas ikan emas atau mujahir yang dihidangkan tanpa ada proses memasak di api, tetapi hanya dengan membubuhi bumbu-bumbu yang sudah disiapkan dan asam ‘jungga”. Makanan ini dijamin nikmat dan higienies; penulis sendiri yang bukan putra daerah Toba--- sampai sekarang ketagihan akan makanan cirri khas Toba ini.
Ingin mencoba, kami akan memberi panduan.

2. Bahan-bahan:
• Ikan emas 1 kg atau ikan mujahir---yang besarnya 2 ekor sekilo
• Asam Jungga 10 biji---asam jungga adalah asam limau yang kulitnya mirip seperti jeruk purut, asam ini harus ada tidak bisa diganti dengan asam lain, karena kalau diganti maka nanti hasilnya sangat asam dan pahit.
• Jeruk lemon 3 biji
• Batang rias (Karo: batang asam patikala) yang masih muda dan diambil bagian tengahnya l.k 2 ons
• Kunyit 1 ons
• Kacang tanah 1 ons
• Jahe 1 ons
• Bawang merah 1 ons
• Bawang putih 1 ons
• Kemiri ½ onas
• Cabe secukupnya
• Kencur dua suing
• Andaliman 1 ons
• Garam secukupnya

3. Proses Penyiapan dan pengasaman Daging Ikan
Ikan emas 1 kg (berat 0,5 kg per ekor) dibersihkan, dibuang seluruh sisiknya, isi perut dan bahkan lender-lendir dikikis dan dicucu sampai bersih. Dibelah dari punggung mulai dari kepala hingga ekor, lalu dibuang durinya lalu dicuci hingga bersih. Lalu diikat dan digantung hingga 1 jam hingga 2 jam; fungsinya biar air yang ada dalam ikan menetes hingga ikan cukup kering sehingga ikan bisa mengisap asam dan bumbu nantinya.

Sambil digantungkan bisa diperas asam jungga tanpa dicampur air, dan selanjutnya diperas juga jeruk lemon lalu dicampurkan dengan hasil perasan jeruk jungga dan juga tanpa dicampu air. Lalu persiapkan sebuah wadah untuk pencampuran asam dengan ikan, masukkan ikan yang sudah ditiriskan pada wadah tersebut lalu tuangkan asam ke wadah tersebut; ikan sedikit ditusuk-tusuk dagingnya untuk mempercepat meresapnya asam ke dalam ikan; dibalik-balikkan beberapa kali, ambil tutup wadah dan biarkan ikan dan perasan asam di dalamnya. Dan sekarang kita mempersiapkan bumbunya.
4. Proses Penyiapan bumbu-bumbu
Langkah pertama, cabe, bawang merah, jahe, kencur, andaliman, masing-masing digiling halus secara terpisah, lalu disisihkan dalam satu wadah (jangan disatukan) Kunyit diparut secara terpisah lalu sisihkan.

Kacang tanah digongseng (tanpa minyak makan) hingga bisa diremas-remas dan terbuang kulit arinya. Selanjutnya ditumbuk hingga halus (bisa juga dicampur sedikit kemiri gongseng) lalu disisihkan.

Batang rias diambil bagian tengah yang masih muda secukupnya lalu direbus secara terpisah, setelah matang ditumbuk sampai halus lalu sisihkan dalam suatu wadah terpisah.
Sekarang bumbunya sudah siap, lalu mari kita campur bersama-sama.

5. Pencampuran bumbu dan daging ikan
Ambil ikan yang sudah dicampur dengan asam bubuhi sedikit garam halus, ambil parutan kunyit lalu masukkan ke dalam kain penyaring dan peras, air perasan masukkan ke dalam ikan hingga warnanya kuning dan balikkan ikan berkali-kali supaya merata, sisihkan…..

Ambil sebuah wadah yang lain campurkan : rias, kacang, cabe, garam halus, kencur, adaliman menjadi satu. Dalam pencampurannya sedikit-sedikit sambil dirasai garam, cabe, dan lainnnya, kalau ada yang kurang ditambah. Setelah pas rasanya---- ambil wadah yang berisi ikan yang sudah diasami dan dicampurkan dengan bumbu yang sudah dicampur tadi---campurkan hingga merata. Sekarang telah jadi naniura yang luar biasa---bisa dihidangkan.

6. Nikmati

Nikmati nani ura yang higienis ini dengan nasi, atau sebagai tambul---selamat mencoba.

Selasa, 25 Januari 2011

Kunjungan Ke GMI Liang Jering

Kunjungan Ke Pos Pelayanan GMI Liang Jering Distrik 3 Wil I

Maju Terus GMI Liang Jering. Ulang Meyerah kaltu…………..!

Pada tanggal 29 November 2010 Kami melaksanakan kunjungan pelayanan ke daerah Liang jering bersama dengan Ds Pdt.TM Karo-karo, GI T. Jacky Padang, S.Th dan Jubeleum Siahaan. Perjalanan menuju Pos Pelayanan GMI Liang Jering sangat menantang kami untuk bermain Lumpur karena sepanjang jalan Lumpur-lumpur yang kami lalui cukup dalam sampai-sampai keempat roda mobil kami tertanam oleh karena dalamnya Lumpur tersebut. Namun semangat kunjungan kami bersama tim tidak lemas melihat kondisi jalan tersebut, melainkan kami tetap lalui dengan penuh tantangan diperjalan karena memang mobil Ranger Hilene yang kami bawa memang mobil tahan bal-bal/ tahan Lumpur dll… (Off Road lah istilahnya….). Setibanya di liang jering jemaatpun menyambut kami dengan sukacita dan yang paling mengesankan 1 ekor pinahan (babi) dikorbankan untuk makan siang bersama dengan seluruh jemat Beberapa tahun yang lalu memang pernah diissukan bahwa bahwa Pos pelayanan GMI liang jering sudah tutup dan hilang dari peredaran, namun kenyataannya sampai sekarang mereka tetap aktif menjalankan ibadah dan kebaktian evangelisasi. Kami Rombongan Pimpinan Disrtik.(Tim pencarai fakta) membuktikan bahwa memang Pos Pelayana GMI Liang jering masih tetap beroperasi dalam kegiatan-kegitan Gereja baik kegiatan kebaktian Minggu maupun Evangeliusasi, jemaat Pos Pelayana GMI Liang jering mempunyai jemaat 15 kk, dan rata-rata jemaatnya mayoritas suku Pak-pak dan Toba. Antusias jemaat ini sangat nampak kecintaanya tetap menjadi jemaat GMI, terbukti bahwa sudah puluhan tahun mereka tak disentuh pelayanan yang optimal, namun mereka tetap mengadakan ibadah kebaktian Minggu dan Evangelisasi setiap minggunya. Melihat kondisi tempat Ibadah mereka sangat terharu rasanya untuk menceritakan, karena sangat darurat tempat ibadah mereka ( Lanai Terturiken kawa…..) Pada malam harinya kami mengadakan kebaktian evangelisasi dipimpin oleh Ds Pdt. TM Karo-karo S.Th MA dan dilanjutkan acara sharing dengan jemaat. Dalam acara sharing tersebut seluruh jemaat sangat menantikan adalah perhatian seluruh warga GMI untuk membantu pembangunan Gedung Gereja di Liang jering.

Pada pukul 00:09 wib selesai serapan pagi kamipun brangkat pulang, dan jemaat yang kami tinggalkan benar-benar sukacita dengan kehadiran kami. satu pengharapan yang kami berikan bagi jemaat GMI liang Jering “Ulang meyerah Kaltu……….!”. Bapak Ibu saudara/I pembaca mari kita ulurkan tangan kita membagi kasih lewat bantuan dana dalam perencanaan Pembangunan gedung Pos Pelayana GMI Liang Jering . (GI.T.Jacky Pdg S.TH)

Selasa, 11 Januari 2011

SERMON PDT/GR.INJIL DAN PEKERJA DISTRIK 3 WILAYAH I

SELASA, 11 JANUARY 2011

DI KANTOR DISTRIK 3 SIDIKALANG

Bahan Sermon, Minggu 16 January 2011

Teks : Yohanes 1:29-42

Thema : Yesus Anak Domba Allah, Penghapus Dosa Manusia

Oleh : Pdt. Agus Sorta Hutauruk, M.Min

Pendahuluan

Kebanyakan orang di dunia ini sangat sulit mengakui dengan jujur kelebihan orang lain. Dia justru ingin mempertahankan karier dan nama baiknya sendiri dan tidak perlu mengorbitkan orang lain ketika dia dikenal banyak orang. Tetapi berbeda halnya dengan Yohanes, ia justru berani memberitakan pada orang banyak bahwa Yesuslah Anak Domba Allah yang akan menyelamatkan umat manusia. Sedangkan dirinya hanyalah sebagai perintis jalan bagi kedatangan Juruselamat dunia.

Pembahasan

Ayat 29-34

Pada teks ini dikemukakan bahwa Yesus untuk kedua kalinya datang pada Yohanes setelah di sungai Yordan Ia minta dibabtis. Kedatangan Yesus yang kedua ini disambut hangat oleh Yohanes bahwa ia mencoba memproklamirkan Yesus kepada orang banyak. Ucapan Yohanes “lihat Anak Domba Allah” menunjukkan pada kita keyakinan Yohanes bahwa kedatangan Yesus ada kaitannya dengan penyelamatan umat yaitu sebagai penebus manusia dari dosa. Penggambaran Anak Domba pada diri Yesus muncul karena suatu kerinduan akan kehadiran seorang mesias. Yohanes melihat itu lengkap pada kepribadian Yesus yang lemah lembut.

Yohanes dengan sadar melihat bahwa Yesus lebih besar dan berwibawa sehingga tepatlah Dia mengemban tugas Ilahi, kareana Dia sudah ada sebelum Yohanes ada. Dengan kata lain perkataan “lihat Anak Domba Allah” pada diri Yesus adalah untuk menyatakan pada banyak orang bahwa Yesus adalah sosok penyelamat dan penebus bagi dunia. Disisi lain lagi kesaksian Yohanes tentang Yesus sebagai Anak Domba Allah karena Ia telah melihat tanda-tanda khusus yang meyertai Yesus (ay 32), Yesus disertai Roh Allah. Jadi Yohanes tak perlu menutup-nutupi kekhususan Yesus yakni pembebasan bagi manusia berdosa. Mengenai Yohanes sendiri, dia hanya sebagai penunjuk jalan dan mengarahkan semua manusia kepada Yesus. Ini juga menampilkan sosok Yohanes yang mau mengakui bahkan memuji Yesus yang jauh lebih utama dari dirinya, sehingga melalui pemberitaan Yohanes Yesuslah yang menjadi nampak.

Ayat 35-42

Pernyataan Yohanes tentang Anak Domba Allah diulangi pada ayat 36, tekanannya adalah meyakinkan muridnya untuk tidak ragu mengikut Yesus. Dua orang murid Yohanes yang bersamanya itu harus dipersiapkan juga untuk dapat menerima dan bertemu Yesus (penyelamat dunia itu).

Hal yang mengesankan nampak dari penyajian Injil Yohanes ini tentang perekrutan menjadi murid Yesus. Penulis Yohanes memperlihatkan dulu keuggulan Yesus yang harus diketahui siapa saja yang mengikut Dia. Kalau seorang ingin menjadi pengikut Yesus maka mereka harus menyadari kelebihan-kelebihan Yesus dibanding guru-guru yang lain. Dalam teks ini juga nampak bagaimana kesaksian Yohanes itu telah mempengaruhi kedua orang muridnya untuk mengikuti Yesus. Kita dapat melihat telah tumbuh keinginan dalam diri murid Yohanes itu untuk menjadi pengikut Yesus. Pengaruh kesaksian Yohanes tentang Yesus itu mulai diyakini Andreas yang langsung memulai pertemuan singkat dengan Yesus.

Tidak diragukan lagi bahwa pertemuan andreas dengan Yesus telah memperkuat keyakinannya bahwa dalam diri Yesus terlihat penggenapan tentang Mesias. Itulah yang mendorong Andreas juga menyaksikan Yesus kepada saudaranya simon dan membawanya kepada Yesus. Pertemuan kedua murid itu dengan Yesus telah membawa dampak besar untuk masa depan bahwa merekalah yang akan menyaksikan tentang Yesus kelak kepada banyak orang. Secara khusus kepada Simon yang disebut Petrus. Dialah salah satu murid Yesus yang akan tetap mempertahankan Yesus.

Refleksi

1. Setiap orang percaya hendaknya dapat memperkenalkan Yesus Kristus yang adalah Mesias penyelamat manusia pada semua orang yang dijumpainya secara khusus pada semua orang yang bersamanya (keluarga dan masyarakat) dimana orang itu tinggal

2. Jika Yesus “pembebas” sungguh-sungguh kita beritakan dalam setiap pemberitaan kita, maka tidak tertutup kemungkinan akan semakin luaslah daerah tempat orang yang akan menjadi percaya dan mengikut Yesus. Pemberitaan-pemberitaan tentang pembebasan oleh Yesus sangat dibutuhkan saat ini.

3. Allah memang ingin menyatakan penyelamatannya atas semua orang, tetapi kita juga dituntut untuk dating bertemu dan percaya kepada Yesus yang merupakan satu-satunya jalan keselamatan (bd. Yoh 14:6)

Sabtu, 18 Desember 2010

PEMBENTUKAN TIM KKR
DISTRIK 3 WILAYAH I



Dalam Pertemuan Pendeta/Guru Injil dan para pelayan di GMI Distrik 3 Wilayah I, yang diadakan pada hari Rabu 08 Desember 2010 di GMI Tigalingga, mengambil suatu kesepakatan untuk membentuk suatu tim pelayanan keliling/Tim KKR yang personilnya adalah para pelayan yang berada di distrik tersebut. Adapun latar belakang pembentukan tim ini mengingat warga jemaat di distrik ini yang berlatar belakang suku Karo dan suku Pakpak perlu dimotivasi sehingga semangat warga jemaat bangkit kembali.

Tim ini nantinya mengadakan KKR keliling di seluruh Distrik 3 wil. I setiap 2 bulan sekali; dan bahkan jika perlu tim ini akan melayani di luar Distrik 3. Tim diketuai oleh GI. TR. Rajagukguk dengan anggota: GI Elpra Sidabutar, GI Anton Sitorus, GI Jakcy Padang, CP Erida Silaban, Pdt. AS Hutauruk, Pdt. Ch. Siahaan, Pdt Elita Hutabarat. Dengan Penasihat: DS Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA (Pimpinan Distrik 3 Wil. I).

Walau perlengkapan belum lengkap tim ini akan memulai pelayanannya pada bulan januari 2011. Kami harapkan dengan pertolongan Tuhan, tim ini beriman Tuhan akan memperlengkapi seluruh kebutuhan pelayanan KKR ini. Saat ini sudah ada anak Tuhan yang menyumbangkan drum, gitar dan akan menyusul yang lainnya. Soli Deo Gloria. (Pdt T.M. Karo-karo,STh, MA)

Minggu, 12 Desember 2010

Cara Membuat Trites

Cara Membuat Trites

(Makanan khas Karo)

Pendahuluan

Trites adalah makanan khas Karo yang mungkin tidak ada suku di dunia ini yang mempunyai cirri khas seperti ini. Trites terbuat dari bahan pokok utama makanan lembu/kerbau yang masih ada di lambung (usus besar) sudah dihaluskan kembali oleh kerbau/lembu tetapi belum dihisap sarinya. Jadi ketika lembu/kerbau dipotong bahan dari dalam usus tersebut dipisahkan diu dalam wadah yang lain. Nampaknya makanan ini menjijikan tetapi sungguh lezat dan menurut tradisi karo makanan berkhasiat mengobati sakit perut.

Bahan-bahan:

  1. Bahan trites 2 kg
  2. Usus/cincang lembu ½ kg
  3. Kelapa 2 butir
  4. Daun jeruk purut 5 lembar
  5. Serai 3 biji
  6. Cabe secukupnya (menurut selera)
  7. Bawang Putih 6 siung
  8. Bawang Merah 6 siung
  9. Kunyit 1 butir (agak besar)
  10. Asam Patikala 15 buah (as arias)
  11. Garam secukupnya

Cara membuat:

Bahan trites ditambah air 1 gelas, lalu diperas, ampasnya disisihkan airnya ini yang akan dipakai; baru ampas yang sudah disisihkan tadi taruh kembali air lalu diperas kedua kalinya, lalu ampas bisa dibuang. Air perasan tadi disaring dengan kain kasa yang bersih dan selanjutnya dimasukkan ke dalam wadah untuk memasak (di Karo biasa dibuat periuk tanah) lalu dimasak di api yang tidak terlalu menyala sambil dimasukkan cincang/usus lembu. Masukkan bumbu-bumbu: daun jeruk, serai dan sedikt garam. Biarkan masakan mendidih, setelah mendidih bersihkan buih yang timbul sampai nanti tidak berbuih lagi.

Setelah daging usus/cincang lembek, masukkan asam (dipukul saja), haluskan kunyit, bawang putih, bawang merah, cabe lalu dimasukkan. Biarkan beberapa saat, sambil memarut kelapa dan diperas; ingat perasan kelapa jangan terlampau banyak air. Lalu santan dimasukkan---tunggu beberapa saat dan rasain garamnya. Proses memasak terites ini memakan waktu yang cukup lama. Aromanya akan merangsang selera makan kita. Selamat mencoba!

DS Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA

Rabu, 01 Desember 2010

PENELAAHAN ALKITAB

“KENDALIKAN PIKIRAN ANDA”[1]

Nats: Kejadian 50:15-21

Oleh : DS Pdt. T.M. Karo-karo,STh,MA

Pikiran anda akan menentukan tindakan-tindakan anda. Kalau pikiran anda positif maka tindakan andapun positif, namun kalau pikiran anda negative maka tindakan andapun negative. Kondisi boleh negative , tetapi kalau pikiran kita positif suatu saat kondisi kita bisa akan berubah jadi positif. Tetapi mungkin kondisi anda positif, namun kalau pikiran anda selalu negative, maka keadaan anda akan berubah jadi negative. Jadi yang menentukan hidup kita bukan keadaan dan kondisi kehidupan kita, tetapi pikiran-pikiran kita.a sangat positif

Hal itulah yang terjadi dalam kehidupan saudara-saudara Yusuf dalam perikop di kita di atas. Keadaan mereka sangat positif, dimana kehidupan mereka sudah terjamin karena Yusuf. Mereka tidak mengalami kelaparan lagi dan mereka dan mereka mendapatkan banyak hal karena kedudukan Yusuf sebagai orang kedua di Mesir. Tetapi keadaan yang positif itu menjadi tidak berarti ketika pikiran mereka dihantui oleh pikiran-pikiran yang negative.

Memang tidak bisa dipungkiri mereka tidak akan pernah lupa akan apa yang pernah mereka lakukan kepada Yusuf di masa lalu. Namun tidak seharusnya mereka berpikir seperti itu. Kalau saja pikiran mereka itu menjadi pikiran Yusuf, buat apa Yusuf menyelamatkan mereka dari bencana kelaparan itu. Tetapi itulah yang terjadi, hidup mereka menjadi bermasalah bukan karena kondisi mereka yang bermasalah, tetapi karena pikiran-pikiran mereka yang negative itu.

Bagaimana agar kita mampu membendung pikiran-pikiran negative? Yang pertama : Kendalikanlah pikiran anda! “Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya”. (ayat 15). Saudara-saudara Yusuf dikuasai pikiran yang negative walaupun kondisi mereka sangat positif. Hal ini terjadi karena pengalaman masa lalu telah menguasai pikiran mereka.

Memang pengalaman masa lalu dan pergumulan hidup saat ini sangat mempengaruhi kehidupan kita. Tetapi jangan pernah mau semua itu menguasai pikiran anda. Kita harus menyadari bahwa pikiran negatif akan senantiasa berusaha untuk mengetuk di depan pintu, tetapi andalah yang memegang kendali apakah anda mau membuka pintu baginya atau tidak. Jadi, kendalikanlah pikiran-pikiran anda sebelum pikiran pikiran itu menghancurkan hidup anda. Sebab andalah yang memegang kendali bukan hal-hal negatif yang berusaha untuk masuk ke dalam pikiran anda.

Perlu Direnungkan :

· Manusia adalah mahluk Tuhan yang berpikir—oleh sebab itu dalam kerangka “keistemewaan” itulah manusia harus mendayagunakannya untuk kesejateraannya sendiri dan kemuliaan Tuhan.

· Pemuda/i >>> hendaknya kreatif dalam berpikir, menjauhkan pikiran-pikiran negative.

· Hati-hati dengan pengaruh pikiran-pikiran negative dalam lingkungan kita.

Pertanyaan untuk Diskusi:

1. Kenapa timbul pikiran-pikiran negative saudara-saudara Yusuf terhadap tindakan Yusuf? Apa sebenarnya kesalahan mereka? (37:12-36)

2. Bagaimanakan sikap/respon Yusuf terhadap praduga negative saudara-saudaranya tersebut? (19-21)

3. Beban psikologis apa yang dirasakan oleh saudara-saudara Yusuf?

4. Bagaimanakah cara kita mengatasi pikiran-pikiran negative yang timbul dalam hidup kita ?

5. Kita sering mendengar gossip, bagaimana sikap anda menghadapai gosiip?



[1] Disampaikan pada pembinaan P3MI Distrik 3 Wil. I tgl 27-28 Nopember 2010 di GMI Lau Tawar